Tadi sore, Sabtu 17 Juli 2010, jam 18.00, aku telpon kerumah, karena memang sudah hampir dua bulanan aku ga pernah telpon keluarga dirumah sekedar menanyakan kabar atau mengabarkan keadaanku disini. Orang yang pertama kali aku telpon waktu itu adalah kakakku, anak pertama dari 3 bersaudara, aku takut kalau langsung telpon ibu beliau sudah istirahat karena memang di Indonesia waktu itu sudah menunjukkan jam 10 malam, jadi aku telpon kakakku basa-basi sebentar tanya ibu apa belum tidur, ternyata katanya baru pulang dari toko, akhirnya aku telpon ke nomer bapak, ngobrol sebentar dengan bapak lalu dilanjutkan ngobrol dengan ibu, lumayan lama sih sekitar 45 menitan. Cerita macam-macam mulai dari keponakanku yang pertama yang berumur hamper tiga tahum semakin menjadi manjanya karena baru udah punya adik perempuan yang baru berusia satu bulan, pintu kamarnya ditutup kalau malam “ini kamar Gesa, adik biar tidur sama Uti (ibuku maksudnya, dia memanggil neneknya dengan sebutan Uti, sedang untuk Mbah Kakungnya dia manggilnya Oo) dikamar Lek Dhani” katanya gitu, aku tertawa saja mendengar cerita ibu tentang keponakanku itu hehehehe.
Berlanjut ke cerita tentang toko masku yang lagi rame karena liburan sekolah sudah selesai dan waktu masuk sekolah sudah dimulai banyak orang tua murid yang berbelanja buku di toko masku, kadang kata ibu dalam setengah hari jatah buku yang ada habis bersih, pagi sales datang, sore masku sudah harus telpon sales lagi untuk minta kiriman buku, bahkan masku terkadang berangkat sendiri muter-muter kulakan buku tulis karena ada beberapa orang tua yang bilang “saya mau beli buku ditoko ini saja nak, ga mau yang lain” padahal masku sudah bilang berkali-kali kalau bukunya sudah habis mungkin besok baru datang lagi, tapi tetap saja ada pembeli yang bersikeras harus bawa pulang buku sekarang juga, karena ruamhnya ternyata jauh, masku sampai heran “kenapa bapak jauh-jauh sampe beli bukunya kesini?” ternyata katany karena harga buku ditoko masku jauh lebih murah.
Demi melayani pembeli yang kadang bersikeras menunggu datangnya buku, dan karena juga ada yang jauh-jauh datang, kadang mas dan bapak harus muter-muter nyari buku. Aku tanya ibu, “kok sampai segitunya orang beli buku ditoko bu, apa ditoko lain ga ada yang jual buku?” jawaban ibu “karena masmu jual bukunya jauh lebih murah dari tokok yang lain”. Bahkan kata ibu mas pernah bilang “asal balik modal aja ga masalah, rugi dibensin juga ga masalah, toh aku masih bisa makan bu, sedangkan orang-orang ini harus menyisihkan sebagian uang berasnya untuk membelikan buku anak-anaknya”
Ah aku benar-benar bangga dengan sosok masku ini, benar2 menjalankan nasehat bapak waktu sebalum membangun toko, “toko ini dibangun bukan untuk sekedar nyari untung, tapi buat bantu orang lain yang butuh pekerjaan, jangan terlalu serakah sama dunia, ambil untung sewajarnya kalo perlu sekedar balik modal ga masalah yang penting bisa bantu orang lain, insyaAllah barokah” begitu kata-kata bapak yang masih aku ingat, dan buktinya meskipun masku menjual barang-barang ditokonya jauh lebih murah dari toko-toko lain, tapi alhamdulillah semakin berkembang “rejeki itu sudah ada yang ngatur, ga bakalan ketukar” begitu kata ibu.
Untuk menjalankan pesan bapak yang pertama, masku mensyaratkan orang yang melamar pekerjaan ditokonya harus lulusan SMA, dan belum menikah, kenapa? karena masku juga punya syarat dan ketentuan lain, karyawannya harus menabung, masku membebaskan mereka mau menabung dengan cara apa dan dimana, masku hanya selalu menekankan dan mengingatkan karyawannya setiap kali gajian untuk menabung. Selanjutnya masku selalu menanyakan kepada karyawannya yang masih punya niatan untuk melanjutkan kuliah, nah untuk mereka yang punya keinginan melanjutkan kuliah masku lebih ketat lagi, mereka bisa bekerja tapi setelah dua tahun dan diperkirakan tabungannya cukup untuk masuk kuliah masku mengharuskan si karyawan untuk melanjutkan kuliahnya, masalah pekerjaan bisa terus atau tidak itu tergantung jadwal kuliahnya, tapi kebnyakan mereka yang lanjut kuliahnya berhenti bekerja setelah dua sampai tiga bulan karena kegiatan dan jadwal kuliahnya yang mungkin padat. Bagaimana dengan para pengganti karyawan yang berhenti ? masku gak perlu repot-repot karena mereka yang berhenti bisa merekomendasikan teman-teman mereka yang butuh pekerjaan, tapi lebih diutamakan yang punya kemauan melanjutkan sekolah tapi ga punya biaya.
“saya bisa bantu kalian cuma dengan cara begini” begitu suatu hari kata kakakku kepada karyawan barunya, yang menggantikan seorang karyawan sebelumnya yang sudah mendaftar di Akper dan mulai masuk sekitar satu bulan, awalnya dia bertahan untuk tetap bekerja di toko tetapi karena jadwalnya seringkali berbenturan terpaksa dia keluar dan digantikan temannya, tiga bulan selanjutnya menyusul seorang karyawan lain yang bertugas di kasir juga keluar karena melanjutkan sekolahnya di Akbid, terhitung sudah tiga orang karyawan, ada satu orang lagi yang melanjutkan di PGRI.
Kembali ke cerita ibu tentang orang-orang yang berbondong-bondong membeli buku di toko kakakku sampai ada yang rela menunggu waktu sore hari tiga sampai empat jam ditoko, karena ada sales yang siap mengantarkan pesanan buku sore itu juga ke toko, atau bahkan mereka menunggu kakakku yang entah sedang kulakan buku dimana. Mungkin bagi mereka yang mempunyai usaha yang sama, kakaku sudah merusak harga pasaran, tapi melihat wajah-wajah senang para pembeli karena bisa sedikit menghemat uang mereka “buat tambahan beli beras” kata mereka, kakakku justru menjadi teladan buat kami adek-adeknya.
Untung kecil ataupun sekedar balik modal, yang penting bisa bantu orang lain, InsyaAllah berkah usahanya dan hartanya, begitu kata kakakku.
Bukankah Rasulullah juga mengajarkan :
(( خير الناس انفعهم للناس ))
Yang artinya : sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk manusia lainnya.
**Sekedar ingin berbagi rasa dengan kompasianers dan para bloggers, ingin aku katakan “Aku bangga dengan kakakku”
2 tahun yang lalu

0 comments: