Akulah putramu...ibu !
Sabtu, Mei 23, 2009 | Author: Ibnu Suwandi
"Assalamu'alaikum....

Ibu semoga selalu sehat dan semoga selalu dalam lindungan Allah, ananda disini alhamdulillah tidak kurang suatu apapun, bagaimana kabar keluarga dirumah?
Ibu alhamdulillah ananda masih bisa sekali lagi menulis surat untuk ibu, entah ini sudah surat yang keberapa kalinya ananda tulis dan kirim untuk ibu, sengaja ananda selalu menulis surat dengan tulisan tangan karena ananda selalu ingat ibu pernah bilang "tulisan tanganmu bagus nak, mirip sekali dengan tulisan tangan bapakmu, rapi, melihat tulisanmu ibu merasa kalau bapakmu masih ada disini, kerinduan ibu sedikit terobati nak", ananda hanya ingin ibu tidak pernah merasakan kesepian, biarlah surat dan tulisan tangan ananda mewakili sekaligus 2 orang yang ibu cintai, bapak sebagai suami yang selalu ibu ceritakan dan bangga2kan kepada kami, tentang kerja kerasnya, ibadahnya, sholat malamnya, amanahnya, cintanya kepada ibu dan keluarga, dan juga ananda yang selalu ibu bilang "kamu mirip sekali dengan bapakmu" ya bu, ananda akan menjadi laki-laki seperti bapak yang ketika sudah meninggalpun cinta dan semangatnyapun masih bisa ibu rasakan dan ibu bagikan kepada kami, ananda ingin seperti bapak dan akan selalu menemani ibu, karena dengan begitu ananda yakin ibu tidak akan pernah merasa kesepian dan sedih.

Ibu surat ini ananda tulis dua hari menjelang ujian, dan ibu tahu ini adalah tahun terkahir kuliah ananda di Mesir ini, satu bulan penuh ananda ujian, dan seperti biasa bulan Agustus adalah pengumuman pelulusan, jika lulus ananda usahakan pulang secepatnya InsyaAllah, rindu ini sudah terlalu lama ananda pendam, dan ananda ingin orang yang pertama kali memberikan senyum kebahagiaan dan kata selamat itu adalah ibu, ibu doakan untuk keberhasilan ananda, seperti tahun-tahun sebelumnya ananda akan berusaha lebih keras lagi untuk mempertahankan nilai mumtaz yang ananda raih, karena kata-kata "pintar seperti bapakmu" itu yang selalu ananda rindukan.

Ibu sayang, adalah sebuah kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya dan ananda tahu beban yang ibu tanggung setelah bapak meninggal tidaklah ringan, juga sebuah kewajiban jika seorang anak selalu memohon maaf dan keridhoan orang tuanya karena Allah juga akan meridhoinya sebagaimana orang tuanya ridho terhadapnya, ibu ananda selalu akan memohon maaf atas semua kesalahan ananda sebagai seorang anak, ananda akan selalu memohon keridhoan ibu sebagai orang tua ananda, ibu usia adalah hal dan perkara ghaib hanya Allah yang mengetahui, kita tak dapat menerka ataupun mengira-ngira, mungkin tak seharusnya ananda berbicara tentang usia dan kematian karena mungkin akan membuat ibu sedih tapi ananda rasa ini penting karena ananda berpikir bahwa perjalanan ananda sangatlah jauh, Mesir-Indonesia bukanlah jarak yang dekat, maka mempersiapkan diri untuk menerima takdir Allah adalah suatu keharusan, ibu ananda tidak ingin membuat ibu sedih ananda juga ingin memberikan bakti ini kepada orang tua ananda, tapi jika tiba saatnya nanti dan ananda tidak dapat memberikan bakti ini, hanya maaf dan keridhoan ibu yang ananda minta.

Ibu... ananda cukupkan dulu sampai disini surat ananda karena ananda juga harus berbagi cerita dengan si kembar, ibu tahu Intan dan Anggun akan selalu cemberut jika kakaknya ini "melupakan" mereka, ananda rindu meletakkan kepala ini di pangkuan ibu sambil mendengarkan cerita tentang masa-masa ibu bersama bapak, indah dan romantis kata ibu, ananda akan menjadi seperti bapak bu Insyaallah.

Wassalamu'alaikum..."

Cairo 22 mei 2009, Teriring salam hangat penuh cinta dari ananda.
Akmal Maulana

Seorang ibu melipat selembar surat beramplop coklat khas Mesir, ada buliran air mata disana, sesekali ujung jilbab putihnya yg lebar digunakannya untuk menghapus air mata yang mengalir itu, tangisnya tenang tak sekalipun sang ibu sesenggukan, menggambarkan kebesaran jiwanya, ketenangan hatinya, masih ada senyum untuk para tetangga yang berdatangan untuk mengucapkan turut berduka cita, ya...sang ibu yang membuatku kagum karena ketenangannya, karena ketabahannya, krena kekuatannya dan karena keikhlasannya.

Surat itu adalah surat terakhir yang diterimanya dari Akmal putranya, dan benar-benar menjadi yang terakhir, kanker paru-paru yang dideritanya merenggut nyawanya 1 hari setelah pemberian penghargaan oleh PPMI ( Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia ) karena dia masuk dalam daftar lulusan terbaik dengan nilai mumtaz, dia jatuh pingsan, dan ketika dibawa kerumah sakit pihak rumah sakit hanya mengatakan "kami sudah berusaha semampu kami, tapi kondisi pasien sudah sangat kritis, apakah dia tidak pernah memeriksakan kesehatannya sebelumnya, kenapa penanganannya terlambat?" seorang dokter bertanya kepada kami." memang penyakitnya apa dok?" kami balik bertanya karena memang kami tidak pernah tahu Akmal menderita sakit parah. "kanker paru-paru stadium akhir". kata dokter itu mengejutkan kami. Aku adalah teman sekamarnya yang selalu mendengarkan cerita-ceritanya tentang ibunya, tentang si kembar Intan dan anggun yang sangat disayangginya, dan saat ini aku disini dirumah duka ini, karena aku sudah menyelesaikan S1 ku dan untuk mengantarkan titipan terakhir sahabatku itu untuk ibu dan adik-adiknya, selembar Ijazah dengan deratan angak-angka terbaik didalam sebuah map yang bertuliskan "UNTUK IBU: SEBUAH BAKTI KECIL YANG MUNGKIN DAN SEMOGA BELUM TERLAMBAT UNTUK ANANDA PERSEMBAHKAN". dia menulisnya setelah pengumuman kelulusan dan menitipkannya padaku "aku titip ini dikumpulkan dengan ijazahku nanti, kalau sekiranya aku ga sempat memberikan ini pada ibu, aku minta tolong kamu wakili aku ya" ucapnya, saat itu aku menganggapnya bercanda, sampai ketika dirumah sakit ketika dia sadar, dia memegang erat tanganku, aku dekatkan telingaku ke mulutnya, tersendat-sendat dan hampir tak terdengar suaranya "San te..te..terima kasih.... atas bantuanmu dan teman-teman, San ka..kamu masih simpan map..." dia menarik nafas sejenak, seolah berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya "yang aku siapkan untuk...untuk tempat ijazah itu kan, tolong wakili aku ya San" ujarnya, aku hanya bisa tersenyum meskipun aku paksakan dan menggemgam erat tangannya seolah ingin aku mengalirkan kekuatanku. " Insyaallah Mal" akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku setelah aku lihat setetes air mengalir keluar perlahan dari matanya yang masih tertutup.

"Ibu, dimana Intan dan Anggun?" tanyaku perlahan tak ingin membuat ibu sahabatku ini terganggu. "mereka diatas, dikamar kakaknya" jawab sang ibu masih tetap tenang meskipun air mata itu tak bisa membohongi kesedihannya. Aku beranjak kekamar atas kamar Akmal tempatku dulu selalu sembunyi kalo ayah sedang marah padaku, dan Akmal selalu meyuruhku pulang agar tidak membuat keluargaku khawatir, "ah..kau terlalu baik kawan". Ku ketuk pintu "siapa?" suara dari dalam entah Intan atau Anggun. " ini kak Hasan dik, masih ingat kan?" jawabku, pintu terbuka dan seketika itu juga mereka berdua memelukku bertangisan "kak Akmal meninggal, kak Hasan jahat, kenapa kak Hasan ga nepatin janji ngejaga kak Akmal, kenapa kak Hasan gak nepatin janji mau pulang bareng kak Akmal" mereka berdua memukuli dadaku kemudian memelukku kembali dan terus menangis, aku hanya bisa diam, biarlah untuk saat ini mereka tumpahkan kesedihan mereka, biarlah untuk saat ini aku mengambil posisi Akmal sebagai kakak yang mereka sayangi yang bisa memberikan rasa aman. "Intan, Anggun kakak juga sedih, kakak juga kehilangan, kakak berusaha pulang cepat dari Mesir karena ingin menyampaikan amanat kak Akmal untuk ibu dan kalian, untuk ibu sudah kk sampaikan, sekarang untuk kalian berdua, ini 2 buah al-qur'an kak Akmal yang membelikannya dan ada juga surat, semuanya ada didalam bungkusan ini, kakak dan kak Akmal yang memilih dan membungkusnya untuk kalian, cantik kan?" ujarku sambil tersenyum mencoba sedikit menghibur mereka berdua, meskipun sebenarnya aku sendiri merasa sangat kehilangan, Anggun mengambil bungkusan itu lalu membukanya, sebuah amplop biru bunga-bunga bertuliskan "untuk peri-peri kecilku Anggun dan Intan". Anggun mengeluarkan isi surat dan membacanya berdua bersama Intan

" Assalamu'alaikum...
Anggun, Intan bagaimana kabarnya? kakak rindu kalian berdua, masih cemberut? karena kemaren waktu kakak telfon ibu kakak ga bicara sama kalian juga, kakak minta maaf karena uang kakak ga cukup buat telfon lebih lama, nah kakak belikan 2 al-quran cantik untuk kalian tanda permintaan maaf kakak. Hei masih cemberut aja? kan kakak udah minta maaf, al-qur'annya mahal lho kalo ga mau ya udah ntar kakak ambil lagi hehehe. Anggun, Intan masih ingat kak Hasan teman kakak kan, kalian berdua pernah bilang "kalo kak Hasan juga jadi kakak Intan dan Anggun, kita berdua pasti seneng deh" ingat kan pernah bilang seperti itu? nah Intan Anggun sayang... mungkin kakak ga bisa secepatnya bertemu kalian berdua karena setelah lulus kakak harus ngumpulin duit dulu untuk beli tiket pesawatnya baru bisa pulang, jadi hadiah qur'an dan surat ini kakak titipkan kak Hasan, ga apa-apa kan? Sssst jangan bilang ibu kalo kakak disini kerja karena pasti ga diizinin, kita bertiga sudah janji kan kalo ada masalah ibu ga boleh tahu cukup kita bertiga saja, sengaja kakak tidak minta ibu uang untuk beli tiketnya, biar ibu bisa tabung untuk kebutuhan yang lain, tabungan kakak disini juga masih ada ditambah bantuan dari kak Hasan Insyaallah tinggal nambahin sedikit lagi, sabar ya sayang, peri-peri kecil kak Akmal, sebentar lagi kita akan berkumpul lagi Insyaallah.
Intan, Anggun masih ingat tentang cerita para pejuang wanita di zaman Rosulullah, dizaman kejayaan Islam yang kakak sering ceritakan dan kalian sering minta ceritakan ulang? Kakak harap dan kakak ingin kalian berdua seperti mereka, seorang muslimah yang santun tapi tegas dan cerdas, seorang muslimah yang sopan tapi berani dan kuat, muslimah yang menjaga 'izzahnya tak terpengaruh dan terseret perubahan zaman yang semakin menggila, menggilas norma, mengaburkan nilai, sehingga muncul isu-isu persamaan gender, lihatlah ibu kita sayang, tetap bersahaja dan cantik dalam kemuslimahannya, tetap kuat dan tegar dalam Islamnya, Intan Anggun peri-peri kecil yang kak Akmal sayangi kakak pilihkan al-qur'an ini sebagai hadiah karena kakak ingin kalian mempelajari dan mendalami isinya, kemuliaan untuk kalian para wanita didalamnya seringkali terlewatkan, kakak ingin kakak sendiri yang membimbing kalian tapi kakak pikir untuk sementara waktu ini biarlah kalian bersama kak Hasan, jika Allah mengizinkan kakak akan segera pulang dan merangkul kalian, seperti biasa hadiah kecupan di kening dan pipi kalian akan segera kalian dapatkan Insyaallah.
Intan, Anggun tolong ingat pesan kakak, al-qur'an itu didalamnya masih banyak rahasia-rahasia yang belum terungkap, teruslah mempelajarinya, janji yah untuk selalu membaca dan mempelajari isinya, kak Hasan pasti akan membantu kalian berdua.
Ah..tangan kakak ini sudah merasakan lelah sayang, kakak harus segera beristirahat, semoga dimimpi kakak malam ini kakak bisa melihat wajah-wajah manis peri-peri kecil kakak kembali tersenyum, kakak rindu kalian berdua.

Masing-masing satu kecupan di kening
Teriring salam hangat penuh cinta dari kakak.

Wassalamu'alaikum...."

Cairo, 22 05 2009 kakak lihat bulan purnama diluar itu indah, semoga kalian bisa tersenyum secerah dan seterang bulan itu.

Anggun memeluk surat itu dan menciumnya berkali-kali, air matanya menetes perih, Intan menggeser duduknya mendekati meja mengambil foto kakaknya dan memeluknya, "Kak, Intan dan Anggun sudah ga marah, Intan dan Anggun sudah ga cemberut lagi, Intan malah senang waktu dengar kabar kakak mau pulang". Intan berhenti sejenak, menghapus butiran bening yang mulai keluar lagi dari kedua matanya. "Intan dan Anggun malah merapikan kamar kakak, kakak lihat seprei ini, warnanya biru bunga-bunga warna kesukaan Intan dan Anggun, karena kak Akmal pernah bilang kakak suka semua yang menjadi kesukaan Intan dan Anggun, kak... Intan beli seprei ini dengan uang tabungan Intan, Intan bayangin waktu kak Akmal datang dan melihat kamarnya indah seperti ini pasti langsung bisa tebak siapa yang bikin kamar kakak seperti ini, kak Akmal pasti datangin Intan dan Anggun, memegang kepala kami, mencium kening, mencubit hidung kami, dan bilang "kak Akmal sayang Intan dan Anggun, terima kasih sayang" lalu duduk di sofa sambil memeluk kami berdua, kakak akan bercerita tentang Mesir, Pyramid dan Sungai Nil ya kan kak?" Anggun masih memandang lekat foto kakanya." kakak lihat jam dinding diatas pintu kamar itu, Anggun yang belikan, dia juga yang meletakkannya disana, kakak lihat karena jam dinding itu dan karena kakak juga, lutut Anggun berdarah dia jatuh dari atas kursi waktu mencoba meletakkan jam itu disana, Intan ga pernah marah sama kakak, Intan ga pernah cemberut, Intan sayang kak Akmal, kakak pulang yah, Intan dan Anggun ga marah, Intan dan Anggun ga cemberut, Intan dan Anggun akan jadi purnama itu, tapi kakak pulang ". Intan tak bisa menahan tangisnya lagi, kedua remaja itu menangis memelukku, badan mereka berguncang keras, aku bisa merasakan kesedihan itu, karena aku juga seperti mereka, kehilangan seorang sahabat, Akmal Maulana, yang lebih mendahulukan kepentingan orang lain, yang pintar tapi tetap sederhana dan bersahaja. Kubiarkan baju koko kuning yang kukenakan ini basah oleh tangis mereka, "kau lihat Akmal, keluargamu begitu mencitaimu, kau begitu beruntung sobat" ujarku dalam hati, aku tak mampu berkata-kata lagi karena akupun hanyut dalam suasana duka ini, tak terasa ada cairan hangat yang mengaliri pipiku, aku menangis, mengingat sahabatku, terima kasih untuk semuanya sahabat, akan kulaksanakan seluruh amanat darimu seperti janjiku yang pernah kuucapkan disaat-saat terakhirmu, Insyaallah.


Duwaiqoh 23052009
Untuk seorang sahabat , semoga kemuliaan yang kau perjuangkan bisa kau dapatkan dan kau rasakan saat ini.
500 geneh
Selasa, Mei 19, 2009 | Author: Ibnu Suwandi

Haa 500 geneh*? Waduh uang dari mana sebanyak itu kalau bukan dari pinjaman? tabunganku sudah habis buat beli buku-buku, aku sibuk dengan pikiranku sendiri, kacau tepatnya, sedangkan dokter gigi didepanku masih melanjutkan penjelasannya yang entahlah aku sendiri sulit untuk menangkapnya, “ini harus operasi ga mungkin dicabut biasa karena giginya tumbuh miring ga seperti gigi kamu yang lainnya, biaya keseluruhan operasi sekitar 500 geneh” hanya itu yang bisa kutangkap, selebihnya ...“Dari mana 500 geneh itu , kalaupun dapet pinjaman bagaimana cara membayarnya? Ya Allah… tunjukkan jalan keluar bagiku, jangan biarkan aku terjatuh dalam keluh kesah yang berlebihan Ya Allah".

“Ok hari kamis datang lagi untuk operasinya, sekarang saya kasih obat dulu karena kamu bilang empat hari yang lalu terasa sakit mungkin ada sedikit infeksi, setelah minum obat ini empat hari lagi kamu datang lagi kesini, malamnya usahakan jangan bergadang karena operasinya butuh waktu sekitar dua jam lebih” kata dokter didepanku sambil menuliskan resep obat yang harus aku beli “ya dok, hari Kamis saya datang lagi InsyaAllah, saya permisi dulu dok, assalamu’alaikum” ujarku, aku keluar dari ruangan kecil tempat praktek dokter gigi di bait Malaysia ini, dia berasal dari Indonesia, tapi bukan berarti pemerintah yang menugaskannya disini sebagai tenaga medis untuk masyarakat Indonesia di Mesir, bukan, tapi dia melanjutkan kuliah kedokterannya di Cairo Univesity. Pertama kali dia buka praktek di Wisma Nusantara dibilangan Rob’ah el Adaweah bisa dibilang markas besar anak-anak Indonesia di Mesir, dia buka praktek disana dengan modal sendiri tanpa ada bantuan dana dari KBRI setempat, pernah ada yang bertanya apakah pernah mengirimkan proposal ke KBRI? Jawabannya pernah tapi tidak ada tanggapan, sampai akhirnya isu yang aku dengar dia diminta oleh pemerintah Malaysia untuk membuka praktek di bait Malaysia markas besar anak-anak Malaysia, gayung bersambut karena KBRI tidak memberikan respon, tanggapan apalagi bantuan dana sedangkan sewa tempat di Wisma Nusantara lumayan mahal, harga obat dan peralatan juga mahal dan tidak mungkin ditanggung sendiri karena mau tidak mau biaya berobat ke dokter ini disesuaikan dengan ukuran kantong mahasiswa Indonesia yang bisa dibilang dibawah rata-rata, singkatnya dia pindah ke bait Malaysia yang bahkan jauh lebih dari sekedar siap memfasilitasinya, biaya berobatpun disesuaikan dengan kondisi keuangan anak-anak Malaysia yang tentu saja diatas rata-rata kami anak-anak Indonesia. Tidak bisa disalahkan juga, karena sebenarnya ini pelajaran untuk pemerintah khususnya KBRI yang terbukti memang kurang perhatian terhadap masyarakatnya sendiri disini.

"Gimana mas, dah dicabut, kok cepet banget?" Maman yang dari tadi menungguku didepan pintu kamar praktek dokter gigi langsung bertanya. "500 geneh Man, harga gigiku lumayan mahal juga ternyata hahaha". Jawabku sambil tertawa, Maman bukannya ikut tertawa tapi malah kelihatan bingung. "500 geneh , eeh dah mahal banget, misy mumkin?!. Komentar Maman dalam bahasa Mesir dengan logat jawa kental masih dengan wajah bingungnya dia bertanya lagi “ yang bener mas, masak sih sampe segitu mahalnya kan cuman cabut aja ga diapa-apain?” aku tertawa “ bener Man, kalau ga percaya masuk lagi sana tanya sendiri sama dokternya” ujarku sambil sedikit menarik tangannya seolah benar-benar mengajaknya masuk ke ruang praktek dokter gigi tadi untuk menyuruhnya bertanya biaya cabut gigiku yang mahal, Maman menarik tangannya “ gak ah, bukan ga percaya mas tapi kok mahal banget gitu lho, sampe 500 geneh itu kan kalo di Rupiahkan sekitar satu jutaan” ujarnya. “ iya tapi gimana lagi nemang biayanya dah segitu kata dokternya , masak aku mau nolak, trus tawar-tawar harga gitu, emangnya jualan baju, yah mungkin ntar hari Kamis kalau bisa aku minta diturunin dikit biayanya, semoga dokternya bisa ngerti” ujarku sambil terus berjalan dan menceritakan kenapa biaya cabut gigiku sampai segitu mahalnya, Maman mendengarkan ceritaku sesekali dengan celetukannya “500 geneh itu kirimanku sebulan, pfiuuh”

"Udahlah, sekarang ke rumah Muhlason aja yuk, aku ngantuk nih, panas-panas gini males pulangnya, kerumah Muhlason dulu istirahat bentar disana, sorean baru pulang". Ujarku, hari ini memang lumayan panas, maklum musim dingin sudah lewat, musim semipun terkadang suhu udara naik turun, kadang sejuk, kadang panas, tapi memang kebanyakan teman-teman lebih suka musim semi karena katanya cuacanya mirip di Indonesia, bunga-bunga juga bermekaran di musim semi ini membuat Mesir terlihat lebih cantik, benar-benar membangkitkan rindu akan Indonesia, tropisnya, alamnya, bunga-bunganya, sungai-sungainya meskipun Mesir punya sebuah sungai terkenal Sungai Nil, tapi hanya satu sungai ini yang dimiliki Mesir, sedangkan Indonesia banyak sekali, tapi keindahan sungai-sungai di Indonesia semakin hilang karena masyarakat dan pemerintah kurang memberikan perhatian sehingga terkadang malah menimbulkan bencana banjir yang tidak hanya menimbulkan kerugian materi tapi juga menelan korban jiwa puluhan bahkan ratusan orang, sayang sekali seandainya masyarakat Indonesia tahu apa yang mereka miliki adalah kekayan berlimpah yang tidak semua negara di dunia ini memiliki pasti mereka tidak akan menyia-nyiakannya, tapi terkadang pelampiasan kemarahan masyarakat terhadap pemerintah justru merusak alam yang akhirnya juga merugikan mereka sendiri. Ah… Indonesia apakah keindahanmu masih bisa aku temukan saat aku pulang nanti.

“Mas ga ke shoidaliyah* dulu beli obat, katanya tadi dikasih resep obat sama dokternya?”. Kata Maman membuyarkan lamunanku.”Iya hampir lupa, Man” ujarku sambil menempelkan pelan telapak tanganku di jidat, seolah-olah menunjukkan kalau aku benar-benar lupa biar ga ketahuan kalau tadi aku ngelamun hehehehe, tapi kan isi lamunanku juga ga jelek-jelek banget memikirkan nasib bangsaku dan juga nasibku nanti sebagai pewaris entah generasi yang keberapa dan akan kebagian Indonesia yang seperti apa nantinya, bayangkan kalau sekarang saja hutan-hutan sudah banyak yang hilang berganti fungsi jadi perkebunan kelapa sawit, dibangun perumahan, pusat-pusat perbeanjaan, zamrud khatulistiwa sudah berubah menjadi negara terbesar perusak hutan lalu apa yang akan terjadi lima sampai sepuluh tahun kedepan? Aaahh ngeri juga aku ngebayanginnya. Aku masuk Shoidaliyah, mengucap salam langsung menyodorkan kertas dari dokter gigi yang tadi memeriksaku, basa-basi sedikit dengan penjaga shoidaliyah yang sedang menata barang-barangnya, shoidaliyah disini fungsinya hampir sama dengan toko-toko biasa, menjual perlengkapan mandi dari shampoo, sabun, sikat gigi, perlengkapan bayi, pampers, botol susu, susu bayi, bubur bayi, bedak bayi , perlengkapan wanita lotion, bedak, softek dan lain-lain kecuali baju, makanan dan sandal, berbeda dengan di Indonesia yang husus untuk obat-obatan saja. Urusan obat beres, aku dan Maman langsung menuju rumah Muhlason yang jaraknya sudah lumayan dekat, aku sudah merasa kepanasan dan gerah,keringat mengalir membuat kaos putih lengan panjangku basah sempurna, apalagi dibagian punggungnya “Sampai dirumah Muhlason aku bakal langsung kedapur ambil air dingin di kulkas kayaknya seger deh mas, trus masak ini hehehe” ujar Maman cengengesan sambil menunjukkan empat bungkus indomie goreng yang dia beli di sebelah shoidaliyah tadi “ hmmm pikiranmu Maaaaan dimana-mana ga pernah lepas dari yang namanya makan, tapi badan tetep aja kurus, jangan-jangan cacingan kamu ” ujarku sambil sedikit memukul pelan tengkuknya “hehehehe, yang penting sehat mas, ga ada sejarah cacingan di keluargaku” ujarnya sambil terus tertawa “iya dikeluargamu ga ada, tapi di kamunya ada” balasku sambil membuka pintu masuk imaroh tempat salah satu saqoh dimana Muhlason tinggal, naik beberapa tangga karena tempat Muhlason ada di tingkat tiga, lalu kutekan bel begitu sampai didepan pintu saqohnya, pintu terbuka “Assalamu’alaikum” ujarku “wa’alaikumsalam…ahlan ahlaaaan, dari mana ini siang-siang, panas-panas gini” sambut Ahmad teman Muhlason salah satu penghuni juga disini “ayo masuk, Muhlason dikamarnya tuh, lagi chating hehehe”ujarnya lagi, aku sudah sering kesini apalagi Maman yang memang lumayan dekat dengan Muhlason, dia langsung ke dapur seperti yang di rencanakannya tadi “mas aku masak tiga ya mienya” teriaknya dari dapur “terserah kamu” jawabku. Aku langsung masuk kamar Muhlason ambil minum langsung tiduran.

“Gimana Han, dah beres, kok lemes gitu?” Mukhlason yang sedang asik dengan keyboard sambil sesekali senyam-senyum sendiri itu bertanya, “yah….lom selesai Son ditunda, karena ada infeksi kata dokternya” jawabku setengah mengantuk.”lho kok kamu pucat gitu, diapain aja tadi?” Tanya Mukhlason yang sudah duduk disebelahku sambil menempelkan telapak tangannya di keningku suatu hal yang biasa dilakukan untuk memeriksa suhu badan seseoarang, Mukhlason memang kelihatannya cuek tapi sebenarnya baik hati dan perhatian banget sama teman. “yah tadi dibius sampe berkali-kali Son, gigiku dibor, di tang dipatahin dikit-dikit, ini masih belum selesai baru separuh gigiku yang keangkat, sisanya tunggu infeksinya sembuh kata dokternya karena memang tadi aku bener-bener ga kuat, pfiuuhh”. Aku sedikit menjelaskan . “Son aku numpang tidur disini yah, kepalaku pening badanku juga lemes nih”. Ujarku sekedar basa-basi karena pastinya Mukhlason meng-iyakan.”Ya udah tidur dulu, aku bikinin susu yah?” ujar Mukhlason sambil keluar kamar. Beberapa menit kemudian Maman masuk kamar “ maaaaas mienya siap, gmn bisa makan ga nih, tadi buka mulut aja susah kan?”. “ Ya udah makan dulu Man, ntar lagi aku nyusul, atau sisain aja deh”. Ujarku.” Lho sekarang aja mas, ntar tambah lemes lho belum minum obatnya juga kan?” Maman sedikit memaksa sambil memegangi bahuku. “ hmmm ya dah”. Aku paksakan juga makan mie itu meskipun mulutku sedikit susah dibuka. “Nih susunya” Mukhlason datang dan meletakkan segelas susu panas di meja samping ranjang. “ Ya, Makasih Son, ayo Son gabung aku ga bakalan habis juga makan mie ini”. Mukhlason hanya mengangguk dan duduk diranjang tepat dibelakangku. “Kata Maman kena 500 geneh ya Han, kok sampe segitu mahalnya sih?” Tanya Mukhlason. “ ga tahu juga Son, bingung aku dapet duit dari mana juga, tabunganku juga udah habis buat beli kitab kemaren, mo minta bapak kata masku keuangan di rumah juga lagi payah tuh “. Mukhlason sedikit mendesah” yah seandainya ada dokter dari Indonesia yang husus melayani kita mahasiswa disni, kita kan masih tercatat sebagai masyarakat Indonesia juga, mungkin ga bakalan semahal itu Han” kata Mukhlson. “ waduh cak mikirnya jauh sekali, kayaknya itu cuma jadi mimpi, bayangin selama aku dsini udah 2 mahasiswa yang meninggal karena sakit dan terlambat penanganannya karena terbentur masalah biaya, masisir pada iuran tuh buat nutupin biaya rumah sakit yang mahal banget, orang-orang KBRI juga pada tahu itu, tapi apa coba? Jangankan mendatangkan dokter dari Indo buat kita, nanya tentang bagaimana biaya perawatan teman yang meninggal aja ga ada, ada sih yang nyumbang lumayan gede tapi itupun karena beliau sebagai penasehat di kekeluargaan dan memang kata teman-teman sudah seperti bapak sendiri, kita ga dianggap deh, apalagi sekarang semua kebijakan dipegang dubes programnya semua mengarah ke studi, tapi sistemnya otoriter, dan itu-itu aja yg dipikirin, jaminan kesehatan kita ga dapet, apalagi keaamanan, udah berapa temen kita yang jadi korban penusukan, perampokan, belum yang mahasiswi tuh yang jadi korban asusila, KBRI ga ada suaranya tuh, kalo Malaysia bisa bayar polisi Mesir buat patroli masak kita ga bisa sih? Heran duit dikemanain gitu lho!” Maman memotong ucapan Mukhlason, ada benernya sih, kami mahasiswa disini sering diintimidasi, mungkin karena melihat ukuran badan mahasiswa Indonesia yang rata2 jauh lebih kecil dibandingkan penduduk Mesir sendiri ataupun mereka yang dari negaralain, tapi KBRI justru terkesan hanya diam, sekedar (terkadang) datang ke lokasi kejadian bertanya ini itu, ujung2nya janji lagi janji lagi. “ Iya Man, kayaknya kita harus bikin laporan ke DepLu nih, atau minimal bikin tulisan kirim ke media nasional, lumayan sedikit bikin malu mereka, itupun kalo mereka masih punya malu” ujarku bersemangat, lupa kalo sedang sakit gigi hehehe.

Tiba-tiba aku rasakan Hp di saku celanaku bergetar, ada panggilan no number, Indonesia sepertinya, “Assalamu’alaikum” aku buka pembicaraan, meskipun sedikit sulit karena sedang sakit gigi, dan mulutku belum bisa terbuka terlalu lebar. “Wa’alaikumsalam…ini mas dek, kamu sehat2 saja?” jawab suara dari seberang yang sudah sangat aku kenal. “iya mas alahmdulillah sehat, cuman agak sakit gigi dikit” aku memang belum memberitahu dan belum menghubungi keluargaku masalah gigiku ini.”keluarga dirumah sehat semua mas?, ada apa ini kok tumben telfon?” tanyaku.”iyah Alhamdulillah sehat, kamu kapan terakhir ujian? Ada kabar baik ini, bapak lagi ada rejeki dan nawarin kamu pulang, sekalian kumpul keluarga, gimana? itupun kalo kamu mau”. Tanya masku “ hmmmm gigiku benar-benar ga penting ternyata, ga ada tanggapan nih, kasihan kamu gigi” ujarku dalam hati. “ akhir ujianku Juni mas, pulang? Wah…. Mau aku hehehe kumpul keluarga ada acara apa mas?” tanyaku kegirangan, lupa lagi kalo sedang sakit gigi, dan memang benar seketika itu juga rasanya gigiku benar-benar sehat ga ada masalah hehehe “iyah ada acara kumpul keluarga sekalian akad nikahku dengan putrinya Kyai Salman tahu kan?” masku balik bertanya.” Putri kyai Salman, yang kemaren baru pulang dari Cairo itu?” tanyaku.”iya” masku menjawab singkat. ”yang manis pake kaca mata itu mas?” tanyaku lagi. “iya” lagi2 masku menjawab singkat. “yang pake jilbab lebar rapi itu kan?” tanyaku sekali lagi mencoba meyakinkan, dadaku mulai sedikit bergemuruh. “iya, kamu kenapa? Jelas2 Kyai Salman cuma punya putri satu2nya itu, kamu tanyanya seperti ada putri Kyai Salman yang lain” ujar masku. “Ruwaida adiba, itu kan mas?” badanku mulai panas dingin, aku berkeringat, berharap ada Kyai Salman lain yang tidak pernah aku kenal sebelumnya, mempunyai putri yang mungkin saja ada kesamaan dalam beberapa hal dengan Ruwaida adiba yang beberapa saat sebelum pulang ke Indonesia karena kuliahnya sudah selesai aku memberinya sebuah surat beramplop coklat di bandara Cairo, dan aku minta supaya dia membukanya saat di dalam pesawat. “apa ini kak?” tanyanya saat itu, tentunya dengan merdu suaranya yang jujur saja sering membuatku tak bisa nyenyak tidur. “sebuah harapan yang terbungkus rapi, semoga tangan yang tepatlah yang membukanya nanti” jawabku sambil tersenyum, satu-satunya hal yang bisa kubanggakan, karena aku terlihat lebih manis waktu tersenyum kata beberapa temanku. “Wah bahasanya terlalu tinggi Ida ga paham kak” uajrnya lagi sambil sedikit tersenyum. “ ya udah , bukanya ntar aja pas di pesawat, semuanya ada disitu, InsyaAllah” jawabku sedikit diplomatis. “iya” suara masku menarikku kembali ke duniaku yang nyata saat ini, lagi-lagi masku menjawab singkat tapi jawaban masku yang sangat singkat ini ternyata menghancurkan harapan terakhirku, tiba2 aku pusing, badanku seperti melayang, tapi masih ada satu hal yang membuatku masih merasa bahwa aku masih hidup dan masih ada di dunia ini, “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaah…!!!!@#$%^&*” aku berteriak kencang sekali, gigiku tiba2 terasa sangat sakit bahkan berlipat sakitnya dari pada sebelumnya. “Son aku mo tiduuuuuur” ujarku sedikit berteriak, tanpa ku perhatikan lagi wajah-wajah yang mungkin keheranan itu, kututup Handphoneku, aku melompat ke atas ranjang, kuambil bantal dan kututupkan ke wajahku berharap ini semua hanya mimpi.