Masih Ingatkah dengan Permaian Ini? (2)
Minggu, Juli 18, 2010 | Author: Ibnu Suwandi

(google.com)

Ketika menyalakan komputer lalu membuka semua situs berita online, hampir setiap hari yang menjadi “menu” utama selalu berita-berita negatif tentang pemerintah negeri yang makin lama semakin menjadi, bagaikan set (ulat putih kecil halus, yang biasanya ada ditempat sampah-sampah basah) yang tidak akan ada habisnya kecuali dibakar, begitu juga mungkin “sampah-sampah” pemerintahan itu tidak akan berhenti kecuali mati, tak ketinggalan para penegak hukumnya pun ikutan berpesta, cara-cara lama digunakan seolah masyarakat ini masih jauh dari kata “mengerti” untuk sebuah intimidasi, ancaman, gertakan agar tak ada satupun yang berani bersuara keras mengkritik atau membuka aib ditubuh institusi yang “membesarkan”nya, para pengacara pun tak jauh beda, siapa yang tak kenal profesi yang satu ini, mungkin diantara ratusan pengacara hanya satu atau dua orang yang benar-benar berprinsip “membela” yang benar, dengan konsekuensi, tidak kaya, tidak berduit, tidak ngetop, tidak kenal dengan pejabat ataupun orang-orang berkelas dinegeri ini ( tapi apakah masih ada ? mungkin kompasianers ada yang kenal dengan pengacara tipe ini ? ), sedangkan sebagian besar yang lain malahan membantu mereka yang bersalah agar lolos dari jeratan hukum, minimal mengurangi masa tahanan, sang koruptor bisa bebas dan tertawa melenggang karena bebas mutlak dan dinyatakan tidak bersalah, sedangkan sang pengacara tersenyum manis disampingnya, sudah membayangkan bonus yang bakalan diterimanya, ujung-ujungnya juga sang pengacara ikutan makan uang hasil korupsi, mungkin dihapus atau diharamkan saja profesi satu ini hehe ( tentu ini pikiran saya pribadi, ga ada urusan dengan anda yang tidak setuju hehe )

Membaca tulisan mas Inu yang berjudul “Untuk yang kangen” yang memuat foto-foto bapak Yusuf Kalla, benar-benar membangkitkan kerinduan terhadap sosok pemimpin yang taktis cara berpikirnya, sederhana bahasanya, nyata hasil kerjanya, senyumnya juga terasa berbeda meskipun semua pejabat istana tersenyum tapi rasanya tak sebanding dengan senyum seorang JK ( tentunya ini apa yang saya rasakan sendiri, tidak ada hubungannya dengan anda atau siapapun yang tidak setuju atau merasa saya terlalu berlebihan ). Terakhir ketika saya lihat JK di TV ketika beliau berkomentar tentang ekonomi Indonesia baru-baru ini, dengan senyum khas dan gaya bicaranya yang cepat beliau berkata “kalau ga begini (seraya membuat gerakan seperti gelombang naek turun dengan ujung jari telunjuk kanannya) bukan ekonomi namanya, nah tergantung bagaimana strateginya” begitu kira-kira ungkapan beliau kalau saya ga salah ingat, ungkapan sederhana tapi berisi, ah saya benar-benar kangen dengan sosok yang satu ini.

Memang akan selalu berat, memusingkan, dan bikin stress membicarakan mereka yang duduk dipemerintahan, selain tak bisa diajak bicara, merekapun tak pernah mau berbicara dengan kita. Dari pada pusing-pusing, saya ingin mengajak kompasianers bernostalgia dengan permainan-permainan masa kecil, pastinya ada yang jauh lebih sepuh dari saya disini, tapi saya juga yakin banyak juga yang jauh lebih muda dan mungkin sudah tidak mengenal beberapa permainan “kuno” yang menyenangkan.

Pasti ada yang masih ingat dengan permainan “Bentengan”, permainan yang dimainkan dengan cara:
- membentuk dua kelompok yang masing-masing jumlahnya ditentukan sesuai kesepakatan.
- menentukan “benteng” yang harus dijaga oleh masing-masing kelompok, jarak diusahakan berjauhan, supaya bertambah seru.
- jika ada salah seorang anggota yang “tertangkap” saat melakukan serangan ke benteng lawan, akan menjadi tawanan yang harus diselamatkan oleh teman-temannya.
- pihak yang menang adalah pihak yang berhasil menguasai benteng lawan, tentu saja para penjaga bentengnya harus di”enyahkan” seluruhnya.

Yang tahu dan pernah memainkan permainan ini pasti merasakan keasyikan dan serunya permainan ini, yang pasti permainan ini menyehatkan, membangun kekompakan dan kerjasama, dan pasti ada tawa, menyenangkan.
This entry was posted on Minggu, Juli 18, 2010 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: