Dominasi Oscar, Slumdog Millionaire Sapu Delapan Oscar
Isi petikan salah satu berita dihalaman depan Jawa Pos, cukup menarik setidaknya untuk para insan perfilman dunia, Indonesia khususnya, bisa dibayangkan untuk sebuah film yang berbujet minim dan minus bintang ternama serta cerita dari luar amerika serikat, India sebuah negara yg mungkin masih dipandang sebelah mata oleh dunia, justru Mendominasi Oscar, Slumdog Millionaire menyapu delapan Oscar, termasuk kategori bergengsi film terbaik dan sutradara terbaik.
Saya sudah menonton film ini, sederhana, ringan, menyentuh, alur cerita serta konflik konflik yang ada didalamnya benar - benar menggambarkan kehidupan masyarakatnya, sebuah kerinduan melihat potret kehidupan masyarakat yang katanya terbelakang, jauh dari kemewahan dan hiruk pikuk kehidupan yang serba modern, saya dapati disini, benar benar alami tapi bisa begitu apik dan menakjubkan tanpa harus menampakkan kemewahan gedung gedung, kendaraan apalagi kemolekan tubuh para bintangnya.
Lalu kemanakah para sineas kita? Indonesia juga punya tempat yg tak kalah kumuh dan padatnya, masyarakat kita juga masih ada yg terbelakang, pendidikan tertinggal, ekonomi serba kekurangan, rumah rumah di Indonesia juga tak semuanya gedung bertingkat, kenapa tak ada yang berani mengangkat cerita dari kehidupan masyarakat kita yang seperti itu? kenapa harus selalu gedung bertingkat, rumah rumah mewah dengan pelataran luas dengan 4 sampai 5 mobil berjajar rapi di garasi, menjual kemolekan tubuh bintang bintangnya yang justru malah terlihat ndeso alias katrok ( meminjam istilah Tukul ).
Kiamat sudah dekat, Para pencari tuhan, Mengejar matahari, Laskar pelangi membuktikan bahwa tanpa harus menonjolkan kesan modern ( yang saking modernnya sampai terlihat katrok ) pun ternyata mampu bersaing dan mempunyai harga jual yang tinggi. Sudah saatnya kreatifitas dan kemampuan berakting insan perfilman kita berbenah bukan hanya modal tampang dan jual badan, toh terbukti Slumdog Millionaire yang dibintangi anak anak dari perkampungan kumuh ternyata dapat menyabet delapan piala Oscar sekaligus.
Bisakah atau mampukah kita? sebuah pertanyaan yang harus cepat dibuktikan jawabannya. Terus maju dan semangat insan perfilman Indonesia.
Salam krreatifitas
Cairo 24 februari 2009

0 comments: