Jakarta - Minggu kampanye dibuka. Ramai-ramai setiap partai unjuk kekuatan massa. Show of force dilakukan dengan berbagai cara dan gaya untuk menarik simpati massa. Ada yang masih menggunakan cara-cara lama, orasi dari yang sopan sampai yang hancur, dari bakti sosial sampai dangdutan, tujuannya tetap satu dan pasti, menjadi pemenang pemilu dan menguasai kursi pemerintahan 5 tahun ke depan.
Mereka yang pernah mencicipi lezatnya kursi pemerintahan tentu ketagihan. Ingin mencoba peruntungannya lagi. Kali ini siapa tahu Dewi Fortuna kembali berpihak padanya.
Mereka yang pernah berkuasa dan memimpin kembali mencoba ingin "membangun" negeri ini seperti yang pernah "dijanjikan". Meskipun kenyataannya ketika berkuasa justru sebaliknya. Hanya menghabiskan dan menguras kekayaan negara.
Ada yang hobi plesiran jalan-jalan keluar negeri meski rakyat tengadah kehausan menunggu air hujan untuk sekedar bisa minum air bersih. Ada pula yang hobi jualan dari beras sampai BUMN pun jadi barang dagangan. Mungkin Pulau Bali pun termasuk yang akan dilelang jika dia kembali berkuasa.
Reformasi 1998 tak hanya menjadi sejarah. Tetapi, juga menyisakan serangkaian pekerjaan rumah yang ternyata terlalu besar dan rumit untuk diselesaikan. Bahkan, mungkin belum menemukan formula yang tepat untuk dikerjakan.
Jangan lupa bahwa para mahasiswa yang dulu turun ke jalan, menumbangkan rezim orde baru, meneriakkan reformasi bertekad memperbaiki keadaan negara, mulai detik itu mereka dituntut maju ke depan untuk bisa membuktikan apa yang menjadi cita cita dan agenda reformasi. Begitu pula mereka yang menyebut dirinya tokoh reformasi.
Agenda reformasi belum tercapai. Bahkan ada sebagian yang mengatakan keadaan negara semakin memburuk. Mereka yang dulu turun ke jalan meneriakkan reformasi entah apa yang mereka lakukan saat ini.
Dan, apakah mereka tahu ternyata mereka mempunyai penerus yang sebagian besar bermental preman yang hobi tawuran di jalanan. Bukan hanya antar kampus bahkan antar fakultas dalam satu kampus pun sering kali teradi. Ketika mereka yang menyebut dirinya insan akademis yang kreatif dan inovatif hanya tahu bahasa otot pertanyaan yang muncul akan dibawa ke mana negeri ini nanti.
11 tahun berlalu. Apakah darah yang tertumpah dan nyawa yang hilang pada tragedi Semanggi dan Trisakti hanya menjadi kenangan dan sejarah yang hanya akan menjadi cerita pengantar tidur turun temurun pada anak cucu. Apakah hanya menjadi hutang reformasi yang tak tahu kapan akan terlunasi. Siapa yang bertanggung jawab?
Situ Gintung adalah salah satu jawaban pertanyaan jutaan orang. Siapakah mereka yang sedang duduk di pemerintahan sekarang.
Pemerintah daerah setempat, PJS Wali Kota ketika diwawancara oleh sebuah TV swasta hanya berbicara tentang bantuan barang yang berlebih. Dan, mengusulkan agar bantuan yang diberikan selanjutnya berupa uang dan diserahkan kepada mereka untuk pengelolaannya.
Siapa yang akan percaya. Sedangkan sampai saat ini pemerintah daerah setempat belum juga menunjukkan perhatiannya kepada para korban Situ Gintung. Bukan hanya sistem yang harus diubah tapi mental juga harus mendapat perhatian lebih.
Dipublikasikan di suarapembaca.detik.com Jumat, 17/04/2009 10:50 WIB
http://suarapembaca.detik.com/read/2009/04/17/105009/1116943/471/reformasi-belum-terbayar
2 tahun yang lalu

0 comments: