Salam hormat kepada yang mulia para wakil rakyat, yang bersuara dengan suara rakyat, dari rakyat dan demi rakyat, sebuah slogan yang benar-benar terdengar sangat mulia dan sangat berat untuk dipertanggung jawabkan bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak.
Crish john yang baru saja melakukan pertarungan di Amerika Serikat meskipun dengan hasil imbang tapi gelar juara tetap melingkar di pinggang petinju kebanggaan Indonesia itu, dan seperti tak mau ketinggalan di Tual, Maluku Tenggara baru-baru ini adegan perkelahian antara anggota dewan kembali menjadi pemberitaan di sejumlah media massa, tak hanya itu, ditengah-tengah suasana yang sedang memanas ada seorang anggota dewan yang merasa dibohongi dan bertanya sebenarnya acara apa yang dia hadiri saat itu, entah benar-benar tidak tahu, atau hanya karena sekedar mencari sensasi karena rapat paripurna saat itu banyak diliput oleh media massa. Mei 2008 lalu juga terjadi hal serupa ketika seorang anggota dewan dari PKB kubu Gus Dur mempertanyakan keabsahan ketua DPRD Jawa Timur, keributan terjadi dan berlanjut dengan adegan perkelahian.
Tak pernah serius mengurusi rakyat
Sebagai anggota dewan dan juga wakil rakyat pastinya mereka tahu bahwa setiap apa yang mereka lakukan selalu di perhatikan dan di monitor oleh rakyat, ketika bangsa ini sakit, rakyat sering mengeluh, alih-alih meningkatkan mutu kinerjanya, mereka malah sibuk menghambur-hamburkan uang rakyat dengan berbagai agenda yang mereka buat, studi banding dan semacamnya seolah hanya penghalusan bahasa dari plesiran alias jalan-jalan, banyak yang bisa membuktikan bahwa ketika beberapa anggota dewan mengadakan kunjungan kerja atau studi banding keluar negri misalnya, kebanyakan yang mereka lakukan adalah shopping, mendatangi tempat-tempat wisata, dan lagi-lagi jurus aji mumpung yang mereka pakai, mumpung keluar negri, mumpung ga pake ongkos dan duit sendiri, jadi jangan heran ketika kembali ke tanah air tak pernah ada perubahan, karena hanya kertas laporan yang mereka serahkan tanpa ada tindak lanjut yang nyata.
Kebodohan yang ditampakkan
Siapapun sudah maklum bahwa panggung politik sebagian besar hanya berisi lelucon, sedikit saja yang benar-benar bisa mempertanggung jawabkan apa yang dibebankan rakyat kepada mereka. Rakyat yang semakin susah, semakin terpuruk, terhimpit ekonomi, pendidikan kurang mendapat perhatian, semakin diperparah keadaannya oleh wakil-wakil mereka yang ternyata tak kalah bodohnya, lihat saja contoh kasus perkelahian sesama anggota dewan yang jelas-jelas dilakukan ditengah-tengah sidang paripurna, sudah tak berlakukah etika, atau sudah hilangkah nuansa ketimuran sehingga harus otot yang berbicara, mungkin karena otak hanya selalu dibuat untuk berpikir tentang kekuasaan. Ada lagi kasus yang terjadi hampir bersamaan yaitu ketika salah satu anggota dewan bertanya tentang acara atau rapat apa yang dia hadiri saat itu, sungguh ironis, dari sekian anggota dewan yang hadir pada rapat paripurna itu hanya satu orang anggota yang bertanya tentang agenda rapat yang dia hadiri, memalukan.
Rapat wakil rakyat seharusnya di ring tinju
Jika setiap pertemuan atau rapat yang diadakan selalu diwarnai dengan perkelahian-perkelahian, adu jotos sesama anggota dewan, apakah tidak sebaiknya jika semua agenda rapat diadakan diarena tinju ditonton langsung oleh rakyat dan biarkan rakyat yang menjadi juri, mungkin akan sedikit menjadi hiburan bagi rakyat yang sudah sangat jenuh dengan ulah wakil-wakil mereka, di daerah maupun di pusat.
Sekali lagi salam hormat untuk para wakil rakyat bahwa anda dipilih bukan dilotre, begitu kata Iwan fals, anda bekerja dikantor ber AC, dengan jas dan dasi, bermandikan parfum wangi yang mahal, bukan dijalanan mengayuh becak berkalung handuk bermandikan keringat, seharusnya anda lebih pintar berakting bukan justru menampakkan wajah asli dibalik topeng anda, atau mungkin perlu didirikan sekolah akting untuk para calon wakil rakyat?.
2 tahun yang lalu

0 comments: