Kampanye Politik tukang sulap dan permasalahan bangsa
Kamis, April 02, 2009 | Author: Ibnu Suwandi
"Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah abad yang lewat Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu kucatat Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun merdeka Itulah pemilihan umum yang paling indah dalam sejarah bangsa Pemilihan umum pertama, yang sangat bersih dalam sejarah kita Waktu itu tak dikenal singkatan jurdil, istilah jujur dan adil Jujur dan adil tak diucapkan, jujur dan adil cuma dilaksanakan Waktu itu tak dikenal istilah pesta demokrasi Pesta demokrasi tak dilisankan, pesta demokrasi cuma dilangsungkan Pesta yang bermakna kegembiraan bersama Demokrasi yang berarti menghargai pendapat berbeda"

Kutipan puisi Taufik Ismail tentang rindunya dia pada pemilu yang damai, tanpa obral janji tapi pasti, tanpa saling klaim tapi tak juga mencaci, harusnya semua yang ada pada zaman ini bisa kembali berkaca, bahwa kita adalah bangsa yang besar, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budaya dan sejarahnya sendiri. "Dari rakyat untuk rakyat demi rakyat" isu dan semboyan yang selalu kembali diangkat setiap kali menjelang pemilu, usia semboyan itu selalu diperbaharui dan dibersihkan dari lumut zaman dan kebohongan setiap 5 tahun sekali, tapi kembali meredup dan nyaris hilang dalam kurun waktu yang sangat singkat, dalam hitungan jam saja mungkin, terhitung sejak usainya pesta demokrasi bangsa Indonesia, dengan terpilihnya pemimpin atau penguasa, dengan diisinya kursi-kursi empuk dan hangat di DPR yang saat rapat bisa beralih fungsi sebagai tempat tidur yang ternyata bisa juga menghasilkan uang dalam keadaan mata tertutup, hebat, memang bangsa ini dipenuhi para tukang sulap. 44 partai peserta pemilu 2009 itu berarti semakain ramai dan semakin banyak cara dan jalan yang ditawarkan untuk memperbaiki bangsa ini menurut pandangan dan pemikiran masing-masing partai, dengan cara apakah mereka akan memperbaiki bangsa ini, itu tergantung dari mekanisme partai itu sendiri, apakah dengan kebijakan kembali berhutang kepada IMF, yang mana pemerintah saat ini sudah melunasi hutang-hutang negara dan tidak lagi berhubungan dengan IMF, ataukah kembali menjual BUMN dan aset-aset bangsa, ataukah meningkatkan swasembada beras, ataukah membuat kebijakan ekonomi kerakyatan seperti yang diwacanakan baru-baru ini, apapun itu yang bisa kita lihat sekarang adalah banyak yang ingin memperbaiki bangsa ini tapi sebagian besar mereka tak pernah mau bersatu. Sekedar sebagai strategi pemenangan pemilu ataukah benar-benar untuk rakyat? keseriusan partai-partai tersebut pantas dipertanyakan dan bisa dibuktikan dalam beberapa hal, diantara permasalahan yang sampai saat ini belum bisa diselesaikan adalah Lumpur Lapindo, permasalahan klasik mungkin tapi pertanyaannya adalah, jika benar agenda yang diusung oleh seluruh partai adalah atas nama rakyat lalu dimanakah partai-partai itu ketika mereka para korban lapindo menangis berteriak-teriak menuntut hak mereka? dimanakah suara partai ketika mereka mau tak mau menginap dan tidur tanpa tempat yang jelas, dimana suara partai ketika mereka harus mengemis mengumpulkan sumbangan untuk bisa bertahan hidup di Jakarta memperjuangkan nasib mereka, sendiri tanpa ada yang mendampingi? Kampanye-kampanye sebagian besar partai selalu tak pernah lepas dari hiburan murahan, dangdut yang hanya pamer goyangan dan jual badan artis-artisnya selalu dipakai untuk menarik simpati masyarakat. Pertanyaan selanjutnya adalah benarkah partai-partai yang berkelakuan seperti ini bisa memberikan pelajaran politik kepada masyarakat luas, benarkah mereka berkeinginan untuk memajukan bangsa ini sedangkan cara-cara yang mereka pakai justru menghantam dan menghancurkan nilai-nilai moral masyarakat? Bersenang-senang dan hiburan murahan selalu tak pernah lepas dari dunia kampanye meskipun tak semuanya partai politik melakukan hal yang serupa. Apakah sila ke 2 dan ke 4 dalam Pancasila masih berlaku atau saat ini hanya menjadi hiasan dinding? karena anak sekolah pun sudah banyak yang tidak hafal lagi dengan isi Pancasila jangan-jangan para pimpinan, pengurus dan kader partaipun juga sudah tidak ada yang hafal 5 sila dalam Pancasila? lalu masyarakat dan bangsa yang seperti apa yang diharapkan kedepan, jika dalam masa-masa kampanye saja penderitaan rakyat tak ada yang memperhatikan, nilai moral dan agama sudah dilanggar?
This entry was posted on Kamis, April 02, 2009 and is filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: