Pak tua di ujung kampung
Selasa, April 28, 2009 | Author: Ibnu Suwandi
Dia berjalan pelan
bukan karena ingin bersantai
atau menikmati senja yang indah
bukan itu...

dia berjalan pelan
pelan sekali
dan lihat tak secentipun sandal lusuhnya terangkat dari permukaan tanah
bukan bermain... bukan

satu...dua...tiga...empat...lima...enam
tepat didepan rumahku, dia pasti berehenti sebentar
dan lihatlah ibu selalu siap dengan segelas air putih dan segelas kopi panas
begitu setiap hari, setiap menjelang Dhuhur dan sehabis Isya

Jumat jam delapan pagi
kulihat dia sedang minum kopi panas didepan rumah
kata ibu dia sedang menuju masjid untuk sholat Jumat
ya setiap Jumat jam delapan pagi

5 tahun yang lalu
saat bapak mengeluarkan kain kafan dari lemari ruang tamu
kain kafan ini untuk dia katanya
banyak orang kampung yang membelikannya tapi sebelum meninggal dia hanya minta dari bapakku

ya...5 tahun yang lalu
sekarang aku tak bisa lagi berhitung
dan berharap saat hitungan ke enam ada seorang tua yang kelelahan berhenti didepan rumah
dan melihat ibu yang dengan sabarnya menyiapkan segelas air putih dan segelas kopi hangat

Pak tua yang selalu ke masjid menjelang Dhuhur
dan pulang sehabis Isya
yang ketika meninggal orang sekampung berebut membelikannya kain kafan
tapi wasiat terakhirnya hanya ingin kain kafan dari bapakku
|
This entry was posted on Selasa, April 28, 2009 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: