Akulah putramu...ibu !
Sabtu, Mei 23, 2009 | Author: Ibnu Suwandi
"Assalamu'alaikum....

Ibu semoga selalu sehat dan semoga selalu dalam lindungan Allah, ananda disini alhamdulillah tidak kurang suatu apapun, bagaimana kabar keluarga dirumah?
Ibu alhamdulillah ananda masih bisa sekali lagi menulis surat untuk ibu, entah ini sudah surat yang keberapa kalinya ananda tulis dan kirim untuk ibu, sengaja ananda selalu menulis surat dengan tulisan tangan karena ananda selalu ingat ibu pernah bilang "tulisan tanganmu bagus nak, mirip sekali dengan tulisan tangan bapakmu, rapi, melihat tulisanmu ibu merasa kalau bapakmu masih ada disini, kerinduan ibu sedikit terobati nak", ananda hanya ingin ibu tidak pernah merasakan kesepian, biarlah surat dan tulisan tangan ananda mewakili sekaligus 2 orang yang ibu cintai, bapak sebagai suami yang selalu ibu ceritakan dan bangga2kan kepada kami, tentang kerja kerasnya, ibadahnya, sholat malamnya, amanahnya, cintanya kepada ibu dan keluarga, dan juga ananda yang selalu ibu bilang "kamu mirip sekali dengan bapakmu" ya bu, ananda akan menjadi laki-laki seperti bapak yang ketika sudah meninggalpun cinta dan semangatnyapun masih bisa ibu rasakan dan ibu bagikan kepada kami, ananda ingin seperti bapak dan akan selalu menemani ibu, karena dengan begitu ananda yakin ibu tidak akan pernah merasa kesepian dan sedih.

Ibu surat ini ananda tulis dua hari menjelang ujian, dan ibu tahu ini adalah tahun terkahir kuliah ananda di Mesir ini, satu bulan penuh ananda ujian, dan seperti biasa bulan Agustus adalah pengumuman pelulusan, jika lulus ananda usahakan pulang secepatnya InsyaAllah, rindu ini sudah terlalu lama ananda pendam, dan ananda ingin orang yang pertama kali memberikan senyum kebahagiaan dan kata selamat itu adalah ibu, ibu doakan untuk keberhasilan ananda, seperti tahun-tahun sebelumnya ananda akan berusaha lebih keras lagi untuk mempertahankan nilai mumtaz yang ananda raih, karena kata-kata "pintar seperti bapakmu" itu yang selalu ananda rindukan.

Ibu sayang, adalah sebuah kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya dan ananda tahu beban yang ibu tanggung setelah bapak meninggal tidaklah ringan, juga sebuah kewajiban jika seorang anak selalu memohon maaf dan keridhoan orang tuanya karena Allah juga akan meridhoinya sebagaimana orang tuanya ridho terhadapnya, ibu ananda selalu akan memohon maaf atas semua kesalahan ananda sebagai seorang anak, ananda akan selalu memohon keridhoan ibu sebagai orang tua ananda, ibu usia adalah hal dan perkara ghaib hanya Allah yang mengetahui, kita tak dapat menerka ataupun mengira-ngira, mungkin tak seharusnya ananda berbicara tentang usia dan kematian karena mungkin akan membuat ibu sedih tapi ananda rasa ini penting karena ananda berpikir bahwa perjalanan ananda sangatlah jauh, Mesir-Indonesia bukanlah jarak yang dekat, maka mempersiapkan diri untuk menerima takdir Allah adalah suatu keharusan, ibu ananda tidak ingin membuat ibu sedih ananda juga ingin memberikan bakti ini kepada orang tua ananda, tapi jika tiba saatnya nanti dan ananda tidak dapat memberikan bakti ini, hanya maaf dan keridhoan ibu yang ananda minta.

Ibu... ananda cukupkan dulu sampai disini surat ananda karena ananda juga harus berbagi cerita dengan si kembar, ibu tahu Intan dan Anggun akan selalu cemberut jika kakaknya ini "melupakan" mereka, ananda rindu meletakkan kepala ini di pangkuan ibu sambil mendengarkan cerita tentang masa-masa ibu bersama bapak, indah dan romantis kata ibu, ananda akan menjadi seperti bapak bu Insyaallah.

Wassalamu'alaikum..."

Cairo 22 mei 2009, Teriring salam hangat penuh cinta dari ananda.
Akmal Maulana

Seorang ibu melipat selembar surat beramplop coklat khas Mesir, ada buliran air mata disana, sesekali ujung jilbab putihnya yg lebar digunakannya untuk menghapus air mata yang mengalir itu, tangisnya tenang tak sekalipun sang ibu sesenggukan, menggambarkan kebesaran jiwanya, ketenangan hatinya, masih ada senyum untuk para tetangga yang berdatangan untuk mengucapkan turut berduka cita, ya...sang ibu yang membuatku kagum karena ketenangannya, karena ketabahannya, krena kekuatannya dan karena keikhlasannya.

Surat itu adalah surat terakhir yang diterimanya dari Akmal putranya, dan benar-benar menjadi yang terakhir, kanker paru-paru yang dideritanya merenggut nyawanya 1 hari setelah pemberian penghargaan oleh PPMI ( Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia ) karena dia masuk dalam daftar lulusan terbaik dengan nilai mumtaz, dia jatuh pingsan, dan ketika dibawa kerumah sakit pihak rumah sakit hanya mengatakan "kami sudah berusaha semampu kami, tapi kondisi pasien sudah sangat kritis, apakah dia tidak pernah memeriksakan kesehatannya sebelumnya, kenapa penanganannya terlambat?" seorang dokter bertanya kepada kami." memang penyakitnya apa dok?" kami balik bertanya karena memang kami tidak pernah tahu Akmal menderita sakit parah. "kanker paru-paru stadium akhir". kata dokter itu mengejutkan kami. Aku adalah teman sekamarnya yang selalu mendengarkan cerita-ceritanya tentang ibunya, tentang si kembar Intan dan anggun yang sangat disayangginya, dan saat ini aku disini dirumah duka ini, karena aku sudah menyelesaikan S1 ku dan untuk mengantarkan titipan terakhir sahabatku itu untuk ibu dan adik-adiknya, selembar Ijazah dengan deratan angak-angka terbaik didalam sebuah map yang bertuliskan "UNTUK IBU: SEBUAH BAKTI KECIL YANG MUNGKIN DAN SEMOGA BELUM TERLAMBAT UNTUK ANANDA PERSEMBAHKAN". dia menulisnya setelah pengumuman kelulusan dan menitipkannya padaku "aku titip ini dikumpulkan dengan ijazahku nanti, kalau sekiranya aku ga sempat memberikan ini pada ibu, aku minta tolong kamu wakili aku ya" ucapnya, saat itu aku menganggapnya bercanda, sampai ketika dirumah sakit ketika dia sadar, dia memegang erat tanganku, aku dekatkan telingaku ke mulutnya, tersendat-sendat dan hampir tak terdengar suaranya "San te..te..terima kasih.... atas bantuanmu dan teman-teman, San ka..kamu masih simpan map..." dia menarik nafas sejenak, seolah berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya "yang aku siapkan untuk...untuk tempat ijazah itu kan, tolong wakili aku ya San" ujarnya, aku hanya bisa tersenyum meskipun aku paksakan dan menggemgam erat tangannya seolah ingin aku mengalirkan kekuatanku. " Insyaallah Mal" akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku setelah aku lihat setetes air mengalir keluar perlahan dari matanya yang masih tertutup.

"Ibu, dimana Intan dan Anggun?" tanyaku perlahan tak ingin membuat ibu sahabatku ini terganggu. "mereka diatas, dikamar kakaknya" jawab sang ibu masih tetap tenang meskipun air mata itu tak bisa membohongi kesedihannya. Aku beranjak kekamar atas kamar Akmal tempatku dulu selalu sembunyi kalo ayah sedang marah padaku, dan Akmal selalu meyuruhku pulang agar tidak membuat keluargaku khawatir, "ah..kau terlalu baik kawan". Ku ketuk pintu "siapa?" suara dari dalam entah Intan atau Anggun. " ini kak Hasan dik, masih ingat kan?" jawabku, pintu terbuka dan seketika itu juga mereka berdua memelukku bertangisan "kak Akmal meninggal, kak Hasan jahat, kenapa kak Hasan ga nepatin janji ngejaga kak Akmal, kenapa kak Hasan gak nepatin janji mau pulang bareng kak Akmal" mereka berdua memukuli dadaku kemudian memelukku kembali dan terus menangis, aku hanya bisa diam, biarlah untuk saat ini mereka tumpahkan kesedihan mereka, biarlah untuk saat ini aku mengambil posisi Akmal sebagai kakak yang mereka sayangi yang bisa memberikan rasa aman. "Intan, Anggun kakak juga sedih, kakak juga kehilangan, kakak berusaha pulang cepat dari Mesir karena ingin menyampaikan amanat kak Akmal untuk ibu dan kalian, untuk ibu sudah kk sampaikan, sekarang untuk kalian berdua, ini 2 buah al-qur'an kak Akmal yang membelikannya dan ada juga surat, semuanya ada didalam bungkusan ini, kakak dan kak Akmal yang memilih dan membungkusnya untuk kalian, cantik kan?" ujarku sambil tersenyum mencoba sedikit menghibur mereka berdua, meskipun sebenarnya aku sendiri merasa sangat kehilangan, Anggun mengambil bungkusan itu lalu membukanya, sebuah amplop biru bunga-bunga bertuliskan "untuk peri-peri kecilku Anggun dan Intan". Anggun mengeluarkan isi surat dan membacanya berdua bersama Intan

" Assalamu'alaikum...
Anggun, Intan bagaimana kabarnya? kakak rindu kalian berdua, masih cemberut? karena kemaren waktu kakak telfon ibu kakak ga bicara sama kalian juga, kakak minta maaf karena uang kakak ga cukup buat telfon lebih lama, nah kakak belikan 2 al-quran cantik untuk kalian tanda permintaan maaf kakak. Hei masih cemberut aja? kan kakak udah minta maaf, al-qur'annya mahal lho kalo ga mau ya udah ntar kakak ambil lagi hehehe. Anggun, Intan masih ingat kak Hasan teman kakak kan, kalian berdua pernah bilang "kalo kak Hasan juga jadi kakak Intan dan Anggun, kita berdua pasti seneng deh" ingat kan pernah bilang seperti itu? nah Intan Anggun sayang... mungkin kakak ga bisa secepatnya bertemu kalian berdua karena setelah lulus kakak harus ngumpulin duit dulu untuk beli tiket pesawatnya baru bisa pulang, jadi hadiah qur'an dan surat ini kakak titipkan kak Hasan, ga apa-apa kan? Sssst jangan bilang ibu kalo kakak disini kerja karena pasti ga diizinin, kita bertiga sudah janji kan kalo ada masalah ibu ga boleh tahu cukup kita bertiga saja, sengaja kakak tidak minta ibu uang untuk beli tiketnya, biar ibu bisa tabung untuk kebutuhan yang lain, tabungan kakak disini juga masih ada ditambah bantuan dari kak Hasan Insyaallah tinggal nambahin sedikit lagi, sabar ya sayang, peri-peri kecil kak Akmal, sebentar lagi kita akan berkumpul lagi Insyaallah.
Intan, Anggun masih ingat tentang cerita para pejuang wanita di zaman Rosulullah, dizaman kejayaan Islam yang kakak sering ceritakan dan kalian sering minta ceritakan ulang? Kakak harap dan kakak ingin kalian berdua seperti mereka, seorang muslimah yang santun tapi tegas dan cerdas, seorang muslimah yang sopan tapi berani dan kuat, muslimah yang menjaga 'izzahnya tak terpengaruh dan terseret perubahan zaman yang semakin menggila, menggilas norma, mengaburkan nilai, sehingga muncul isu-isu persamaan gender, lihatlah ibu kita sayang, tetap bersahaja dan cantik dalam kemuslimahannya, tetap kuat dan tegar dalam Islamnya, Intan Anggun peri-peri kecil yang kak Akmal sayangi kakak pilihkan al-qur'an ini sebagai hadiah karena kakak ingin kalian mempelajari dan mendalami isinya, kemuliaan untuk kalian para wanita didalamnya seringkali terlewatkan, kakak ingin kakak sendiri yang membimbing kalian tapi kakak pikir untuk sementara waktu ini biarlah kalian bersama kak Hasan, jika Allah mengizinkan kakak akan segera pulang dan merangkul kalian, seperti biasa hadiah kecupan di kening dan pipi kalian akan segera kalian dapatkan Insyaallah.
Intan, Anggun tolong ingat pesan kakak, al-qur'an itu didalamnya masih banyak rahasia-rahasia yang belum terungkap, teruslah mempelajarinya, janji yah untuk selalu membaca dan mempelajari isinya, kak Hasan pasti akan membantu kalian berdua.
Ah..tangan kakak ini sudah merasakan lelah sayang, kakak harus segera beristirahat, semoga dimimpi kakak malam ini kakak bisa melihat wajah-wajah manis peri-peri kecil kakak kembali tersenyum, kakak rindu kalian berdua.

Masing-masing satu kecupan di kening
Teriring salam hangat penuh cinta dari kakak.

Wassalamu'alaikum...."

Cairo, 22 05 2009 kakak lihat bulan purnama diluar itu indah, semoga kalian bisa tersenyum secerah dan seterang bulan itu.

Anggun memeluk surat itu dan menciumnya berkali-kali, air matanya menetes perih, Intan menggeser duduknya mendekati meja mengambil foto kakaknya dan memeluknya, "Kak, Intan dan Anggun sudah ga marah, Intan dan Anggun sudah ga cemberut lagi, Intan malah senang waktu dengar kabar kakak mau pulang". Intan berhenti sejenak, menghapus butiran bening yang mulai keluar lagi dari kedua matanya. "Intan dan Anggun malah merapikan kamar kakak, kakak lihat seprei ini, warnanya biru bunga-bunga warna kesukaan Intan dan Anggun, karena kak Akmal pernah bilang kakak suka semua yang menjadi kesukaan Intan dan Anggun, kak... Intan beli seprei ini dengan uang tabungan Intan, Intan bayangin waktu kak Akmal datang dan melihat kamarnya indah seperti ini pasti langsung bisa tebak siapa yang bikin kamar kakak seperti ini, kak Akmal pasti datangin Intan dan Anggun, memegang kepala kami, mencium kening, mencubit hidung kami, dan bilang "kak Akmal sayang Intan dan Anggun, terima kasih sayang" lalu duduk di sofa sambil memeluk kami berdua, kakak akan bercerita tentang Mesir, Pyramid dan Sungai Nil ya kan kak?" Anggun masih memandang lekat foto kakanya." kakak lihat jam dinding diatas pintu kamar itu, Anggun yang belikan, dia juga yang meletakkannya disana, kakak lihat karena jam dinding itu dan karena kakak juga, lutut Anggun berdarah dia jatuh dari atas kursi waktu mencoba meletakkan jam itu disana, Intan ga pernah marah sama kakak, Intan ga pernah cemberut, Intan sayang kak Akmal, kakak pulang yah, Intan dan Anggun ga marah, Intan dan Anggun ga cemberut, Intan dan Anggun akan jadi purnama itu, tapi kakak pulang ". Intan tak bisa menahan tangisnya lagi, kedua remaja itu menangis memelukku, badan mereka berguncang keras, aku bisa merasakan kesedihan itu, karena aku juga seperti mereka, kehilangan seorang sahabat, Akmal Maulana, yang lebih mendahulukan kepentingan orang lain, yang pintar tapi tetap sederhana dan bersahaja. Kubiarkan baju koko kuning yang kukenakan ini basah oleh tangis mereka, "kau lihat Akmal, keluargamu begitu mencitaimu, kau begitu beruntung sobat" ujarku dalam hati, aku tak mampu berkata-kata lagi karena akupun hanyut dalam suasana duka ini, tak terasa ada cairan hangat yang mengaliri pipiku, aku menangis, mengingat sahabatku, terima kasih untuk semuanya sahabat, akan kulaksanakan seluruh amanat darimu seperti janjiku yang pernah kuucapkan disaat-saat terakhirmu, Insyaallah.


Duwaiqoh 23052009
Untuk seorang sahabat , semoga kemuliaan yang kau perjuangkan bisa kau dapatkan dan kau rasakan saat ini.
This entry was posted on Sabtu, Mei 23, 2009 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: