Perempuan, cium tangan dan modern
Jumat, Juni 25, 2010 | Author: Ibnu Suwandi

Apa yang salah dengan 2008, 2009, sekarang 2010 dan sebentar lagi 2011 ? apa yang salah atau siapa yang salah? Begitu mungkin pertanyaan selanjutnya.

“helloooooooow sekarang 2010 men, kemana aja kamu ?” kata seseorang kepada temannya yang ga paham gimana caranya make sabu, ganja dan sahabat2nya. Ups contoh yang terlalu ekstrem mungkin yah ?! atau yang model begini “ ha? Ngapain masih nunggu ijin nyokap? Pake salaman cium2 tangan lagi, wuoi udah 2010 nih, langsung cabut aja napa ? “ kata seseorang kepada temannya yang menurutnya masih “ketinggalan” jaman, kekanak-kanakan, atau mungkin juga dibilang “ndeso”.

Kenapa harus berubah, kenapa harus membuang segala tetek bengek nilai budaya yang luhur yang nyatanya pengaruhnya sangat-sangat besar terhadap perkembangan dan geliat generasi selanjutnya?.

Pergeseran nilai saat ini sudah bukan lagi menjadi isu mereka yang tinggal di kota yang biasa dan dengan bangga menyebut dirinya “orang kota”, bahkan yang katanya orang desa, ndeso, ndesit pun sekarang bisa dibilang sama, kenapa? Karena kebanyakan para orang tua membiarkan anak memilih sendiri tanpa kontrol orang tua apa yang ingin dijadikan sebagai gaya hidup oleh anak-anaknya, mulai dari hal yang mungkin bisa dibilang kecil, misalnya saja salaman cium tangan orang tua ketika si anak akan pergi keluar rumah, kita lihat kalo si anak yang melakukan adalah laki2 maka posisi cium tangannya masih tetap yaitu hidung menempel atau mencium punggung tangan orang tua (saya ga membahas yang langsung ngeloyor pergi, tanpa salaman), nah kalau si anak yang melakukan salaman tadi adalah perempuan, sekarang udah mulai pake gaya, 2006 saya lihat kebanyakan sudah bukan hidung yang menempel atau mencium punggung tangan tapi dahi alias jidat, entah apa alasannya, mungkin takut kehilangan hidungnya yang mancung2 dikit, atau yang pesek takut tambah pesek, 2009 menjelang 2010 yang saya lihat sudah semakin bergeser posisi itu, kemana? ke pipi ! kenapa? Saya juga kurang mengerti, tapi itulah kenyataannya, sebuah nilai adat dan budaya yang mungkin kecil yang dibiarkan terus bergeser dan akhirnya mungkin akan hilang. Maka jangan heran ketika pergeseran nilai dan norma semakin parah, karena muda-mudinya semakin tidak merasakan kehadiran budaya ketimuran, semakn tidak mengenal apa itu etika, batasan-batasan, banyak orang tua mengeluh tapi mereka juga tidak sadar bahwa mereka juga ikut andil dalam merusak tatanan etika yang seharusnya dikenalkan dan ditanamkan kepada anak-anak mereka sejak dini, peran wanita sebagai ibu sangat besar pengaruhnya dalam menentukan para pemegang tongkat estafet generasi selanjutnya, tak jadi masalah dengan pekerjaan atau karir, asal tanggung jawab sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga bisa terpenuhi dengan sempurna, maka tidak heran jika dalam literatur Islam dikenal ungkapan “ Al-Mar’atu imadulbilad (wanita adalah tiang Negara ) maka hakekatnya al-usratu ‘ imadubiladi biha tahya wa biha tamuut ( keluarga adalah tiang Negara dengan keluarga Negara bangkit dan dengan keluarga pula Negara bisa runtuh ). Dari ungkapan ini bisa kita pahami bahwa ada mata rantai antara negara dan keluarga, keluarga adalah gambaran kecil dari sebuah negara, semua berangkat dari didikan dalam keluarga, tentunya peran ibulah yang sengat besar dalam menciptakan atau membentuk karakter keluarga terutama anak-anaknya. Kembali mengenalkan nilai dan norma budaya, sopan santun, adat ketimuran sebagaimana para orang tua, mbah-mbah kita mengajarkannya, bukan suatu kesalahan, boleh saja zaman semakin modern, tapi jika tanpa dibarengi nilai-nilai luhur yang ditanamkan kuat, jangan salahkan kalau suatu saat nama keluarga kita justru jatuh dan tercoreng di tangan penerus kita. Na’udzubilaahi min dzaalik.
This entry was posted on Jumat, Juni 25, 2010 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: