Hindari stress dengan menulis
Minggu, Juli 11, 2010 | Author: Ibnu Suwandi
Untuk penyakit yang satu ini, aku merasa bersyukur bahwa kedua orang tuaku telah memberikan “vaksin”nya sejak usia dini, dulu aku benar-benar merasa tersiksa ketika semuanya masalah waktu diatur habis-habisan oleh ibu, mulai jam belajar malamku yang harus dimulai setelah sholat Isya sampai jam 20.00, setelah itu boleh nonton tv tapi dibatasi hanya sampai jam 20.30, selanjutnya adalah dimulainya jam tidurku, benar-benar harus tepat waktu karena ibu mewajibkan untuk bangun pagi sekitar jam 4 aku sudah harus bangun untuk ikut bapak sholat subuh. Benar-benar berat buatku waktu itu, mungkin karena masih TK.

Berlanjut ketika aku masuk SD, ibu memberikan tugas tambahan membersihakan kamar sendiri mulai dari merapikan bantal guling, seprei, melipat selimut, dan setiap kali aku naik kelas, bertambah pula tugasku, menyapu lantai kamar, menyapu ruang tamu, membersihkan dapur. Begitu juga dengan kakak dan adekku mereka memiliki tugasnya masig-masing.

Mungkin terkesan seram karena aku hanya menceritakan sekilas disini, tapi percayalah bapak dan ibu benar-benar bisa membuat kami merasa semua itu bukan sebagai beban, tidak pernah ada kata perintah atau kata menyuruh yang ibu dan bapak keluarkan. Dan ternyata begitu cara bapak dan ibu membiasakan dan mengenalkan kepada kami apa tugas dan tanggung jawab masing-masing sebagai penghuni rumah. Sekarang aku tidak terbiasa dengan sesuatu yang tidak pada tempatnya, kotor, tidak tertata, itu didikan ibu secara tidak langsung, karena aku tidak pernah mendengar bapak bertanya “dimana…dimana…dimana”, kakakku juga sama tak pernah bertanya kepada ibu tentang dimana seragamnya, ataupun barang-barangnya, begitu juga aku, dan ternyata itu membangun kesadaran kami anak-anaknya bahwa sesuatu yang tertata dan terletak pada tempatnya, selain terlihat rapi juga memudahkan kita ketika mencari tanpa harus “dimana sih?”.

Sekarang aku berada jauh dari ibu, dengan teman-teman serumah yang ternyata sering membuatku emosi, meskipun terpaksa selalu aku tahan karena aku ga mau hubungan penghuni rumah jadi ga harmonis, mereka suka dan bahkan terbiasa tidur pagi, jorok, bahkan pernah aku biarkan seminggu toilet ga aku bersiin, ternyata sampai berwarna kekuninganpun mereka ga ada yang tergerak buat membersihkan, kerjaan mereka benar-benar hanya tidur dan makan, bangun langsung facebook-an, keluar kamar hanya liat masakan, kalau udah siap ya langsung makan, kalau ga ada ya masuk kamar lagi hehehehe. Pernah beberapa kali kumpul serumah buat ngbrolin semua masalah rumah mulai dari pembayaran samapi kebersihan, tapi ga jalan juga. Bahkan suatu pagi pernah aku marahin semuanya “jangan sok nge-boss gitu dong!” tapi ya tetap santai didepan computer, facebook-an, mungkin hati mereka udah benar-benar mati, karena aku yakin sih ga ada orang tua yang mengajarkan anaknya untuk jorok dan kotor, tapi mereka benar-benar sudah kelewatan.

Pernah aku telpon ibu menceritakan keadaan disini, ibu cuma bilang “kalau memang teman-temannya ga bisa diharapkan ya sudah kerjakan sendiri, yang ikhlas toh dirumah dulu juga sudah biasa ngerjain yang begituan”. Kalau jawaban bapak “jangan dipikir, selama kamu bisa ya kerjakan sendiri, biar ga terbiasa bergantung”.

Jadi teringat kata-kata Pak Didin Hafidudin dan Pak Syafii Antonio dulu waktu ngobrol bareng teman-teman panitia, beliau berdua pernah bilang “apa yang kita jalani dan lakukan sekarang ini, jangan dijadikan beban, jalani dengan ikhlas, Insya Allah berguna buat masa depan kita sendiri nanti”

Terimakasih buat bapak ibu dengan semua keteladanan hidup yang mereka contohkan buat kami anak-anakmu.



(tulisan ini ungkapan emosiku yang kesekian kalinya, daripada marah-marah ga ada gunanya, mending kubahasakan dengan tulisan dan berbagi dengan sahabat kompasianers)

Salam bersih dan terat

11Juli2010
|
This entry was posted on Minggu, Juli 11, 2010 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: