Ada satu pertanyaan yang mungkin akan sama banyaknya ditanyakan oleh mereka-mereka yang masih normal di Indonesia, mungkin terlalu banyak yang harus ditanyakan dan mungkin akan butuh waktu untuk menjelaskan satu persatu, tapi tetap akan dipersilahkan anda, kalian, kita untuk bertanya karena setiap masyarakat memiliki haknya masing-masing, apalagi hak-hak sebagai warga negara dilindungi oleh undang-undang, tapi entahlah kalau para anggota dewan itu lupa, karena mungkin sekarang mereka akan terus menggodok dan memperkuat undang-undang tentang program plesiran mereka ke luar negeri agar berkesan legal karena sudah berpayung hokum dan diatur juga oleh undang-undang.
Apa sih sumber semua permasalahan di negeri ini yang tak pernah kunjung selesai bahkan semakin parah dan akut. Kesampingkan dulu prasangka campur tangan asing, karena asing tak mungkin berani bermain kalau bangsa ini kuat, kesampingkan dulu rendahnya SDM karena pada kenyataannya bangsa ini mempunya banyak habibie-habibie yang ‘terbuang’, kesampingkan dulu isu-isu keagamaan karena siapapun yang menjalankan ajaran agamanya dengan benar maka dia tidak akan menipu, berbohong, bersumpah palsu, mencuri uang rakyat dan negara.
Sebenarnya jawaban untuk semua pertanyaan yang ada sangatlah sederhana, dan sebenarnya juga sudah terjawab mungkin apa yang menjadi ganjalan dan pertanyaan sekian ratus juta kepala di indonesia, ya keadaan bangsa ini menyedihkan seperti ini karena semua yang berkepentingan pada tahta dan harta negara ini, semua yang sedang duduk dan berkuasa di negara ini berlindung dibalik formalitas-formalitas yang mereka buat dan mereka sahkan untuk kepentingan segelintir orang dan mereka sendiri.
Coba apa susahnya kalau memang semua kepala yang berkopiah hitam itu mempunyai visi dan misi yang sama untuk membuat bangsa ini menjadi lebih baik, bersih dan kuat, apa yang menjadi halangan bagi mereka untuk membuat keputusan-keputusan yang tidak popular, misalnya ….hukuman bagi maling uang negara yaitu, menyita seluruh aset yang dimiliki, dan dihukum mati setelah semua bukti-bukti lengkap dan terkumpul, beranikah ? Sampai saat ini saja sang presiden dalam penanganan kasus Gayus, masih saja dengan gaya khasnya yang ragu-ragu, sudah jelas itu institusi Polri Cuma jadi panggung buat pertunjukan dengan lakon utamanya Gayus, kenapa tak langsung diserahkan ke KPK saja kasus ini, atau masih ada usaha “kompromi” dibelakang layar sehingga harus membuat KPK “nganggur” ?
Buat apa ada KPK kalau hanya dijadikan simbol bahwa pemerintah yang berkuasa ingin sekedar menunjukkan bahwa mereka juga anti korupsi . dibentuknya satgas mafia hukum pun ga banyak memberikan perubahan yang jelas, coba tanyakan beranikah mereka membongkar kasus lapindo yang tak kunjung selesai ini, bagaimana prosesnya sehingga menjadi tanggung jawab negara dengan biaya yang harus ditanggung masyarakat dengan membayar segala macam pajak, sedangkan Bakrie kembali terpilih menjadi orang terkaya.
Ah lagi-lagi saya hanya seorang yang tak mengerti hukum, buta tentang birokrasi, dan tak dapat membaca dengan jelas sketsa tugas masing-masing satgas bentukan mister presiden, yang entah pembiayaannya menghabiskan berapa besar dari pajak yang terkumpul .
Atau mungkin perlu ada episode special untuk sebuah lelucon “orang terkaya di negara miskin?”
2 tahun yang lalu

0 comments: