Dasar! Dasar Sama-sama Pembohong!
Senin, November 29, 2010 | Author: Ibnu Suwandi
Merapi tenang pasangan muda mudi kembali sewa kamar, begitu judul besar berita yang saya baca disebuah situs berita online. Mungkin bagi sebagian orang akan berpikiran “ah sudah biasa itu, sebelum merapi meletus, sebelum wedhus gembel turun pun sudah banyak yang melakukan hal begituan”. Tapi mungkin bagi yang masih memiliki kesadaran moral mungkin akan mengelus dada, sedih, marah ataupun kecewa, karena ternyata geliat merapi, tidak dapat menyadarkan mereka yang selalu lebih mengutamakan kesenangan, menjadi budak nafsu.

Apakah harus menunggu peringatan-peringatan dari sang kuasa melalui alamnya, sebuah bencana yang mungkin lebih besar dari sekedar turunnya wedhus gembel atau erupsi-erupsi kecil merapi ?

Ironis memang, dari kesaksian keamanan dari sebuah hotel yang biasa disinggahi para muda-mudi, status mereka rata-rata adalah mahasiswa dan belum menikah, lengkap dengan cerita-cerita sang security tentang suara-suara ataupun tirai yang lupa ditutup saat mereka ber”ayam” ria. Lalu ketika kembali ke kampus mereka akan berteriak-teriak tentang ketidak adilan pemerintah, berteriak-teriak tentang bobroknya moral anggota dewan, berteriak-teriak mempertanyakan nurani sang pemimpin, berteriak-teriak menyalahkan penguasa atas segala rupa bencana yang terjadi adalah disebabkan penguasa yang tidak amanah ?

Inilah yang selalu saja dilupakan oleh sebagian kalangan yang menyebut dirinya kalangan akademisi, orang-orang berpendidikan, sebagian mereka pikir dengan duduk dibangku kuliah, lalu dengan seenaknya merasa bisa menyuarakan apa yang mereka sebut “mewakili” suara dan kemarahan rakyat ? Bodoh ! kenapa bodoh ? ya memang bodoh, apanya yang mau dibersihkan kalau didalamnya sendiri ternyata masih bercokol kemunafikan-kemunafikan, apanya yang mau dirubah kalau ternyata mengawasi sekitarnya saja tak mampu.

Katanya seorang mahasiswa harus mempunyai tanggung jawab akademis, berbicara dengan data dan fakta, maka sekarang kami meminta atau mungkin kami tuntut kalian, sebelum turun ke jalan-jalan membuat kemacetan, beri kami jaminan, tak ada kemunafikan, tak ada kebohongan, tak ada kebobrokan moral disekitar kalian.

Ow jangan salahkan system, jangan selalu katakan “pemerintahnya saja begitu apalagi yang diperintah. Bagaimana kalau dibalik saja, yang menyuarakan kebenaran dan katanya mewakili rakyat moralnya saja bejat, apakah didengar suaranya sama mereka yang sama-sama bejat ? jangan mimpi. Mungkin para anggota dewan atau sebagian penguasa yang bejatpun akan tertawa dan mengatakan … mereka-mereka itu kan yang kemaren ketemu kita di hotel ini, menyewa short time dengan seorang perempuan dengan status belum menikah, sekarang meneriaki kita maling, tidak bermoral, ah sama saja kok.

Apakah lalu kalian akan membela diri dengan mengatakan itu hak asasi kalian, berlindung dibalik kata-kata hak asasi manusia? Wah maka akan saya berikan tepuk tangan, dan mengangkat dua jempol. Pantas yang ada sekarang kebanyakan hanya gerakan-gerakan kecil yang menimbulkan kemacetan, menyisakan kotoran, tanpa memberikan efek yang nyata. Karena yang munafik teriak munafik, yang tak bermoral teriak tak bermoral, berlindung juga dibalik kata keadilan untuk rakyat, tak jauh beda dengan para anggota dewan yang saat kampanyepun berteriak-teriak untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat. Semuanya sandiwara, bohong dan tak ada gunanya.
|
This entry was posted on Senin, November 29, 2010 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: