Selalu saja ada hal baru, program baru, dan mungkin sesuatu yang biasa disebut sebagai terobosan-terobosan baru (mungkin agar terlihat selalu bekerja dan mengurangi kesan nganggur) yang dicanangkan pemerintah Indonesia, selalu begitu dan mungkin akan terus begitu, karena setiap rezim selalu berusaha tampil lebih memukau, sehingga terlalu banyak program yang dibuat bukannya selesai tapi malah pada akhirnya hanya menjadi tumpukan sampah yang justru akan dijadikan senjata oleh para lawan politik ataupun rezim setelahnya.
Lihat saja contohnya sekarang ”Gerakan sehari tanpa nasi” yang katanya sih diadakannya program ini dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan Indonesia, lho meningkatkan ketahanan pangan kok malah makannya yang dikurangi bukannya sistem di bidang pertaniannya yang diperbaiki, lalu program swasembada beras apa cuma sekedar untuk ”menipu” perolehan suara dari para petani atau mungkin ini adalah suatu program pemerintah untuk bisa ”mensejajarkan” bangsa ini dengan bangsa-bangsa lain.
Ada peribahasa menyebutkan duduk sama rendah berdiri sama tinggi, tapi pada kenyataannya itu tidak terlihat dalam sebuah acara kenegaraan , lihat saja ketika Barrack Obama datang ke Indonesia, para pejabat kita ketika bersalaman ”terlihat” membungkuk sehingga muncul kritik-kritik tajam dan pedas dari masyarakat yang tak terima para simbol yang mewakili rakyat dan bangsa yang besar ini harus membungkuk bagaikan seorang babu dihadapan majikannya.
Dan mungkin karena hal yang ditakutkan seperti diatas berlanjut dan terus terjadi maka pemerintah menggalakkan program sehari tanpa nasi dan berusaha mengubah cara fikir masyarakat yang selalu beranggapan bahwa “bukan makan namanya klo belum makan nasi”.
Terbukti dengan makan nasi kita tak bisa sejajar dengan mereka-mereka yang dari luar negeri. Terbukti dengan makan nasi terjadi ‘’salah paham” ketika bersalaman dengan Mr. Barry para pejabat ”dikira” membungkuk padahal alasan “yang benar” adalah karena mereka kalah tinggi alias tak sejajar. Terbukti dengan makan nasi pidato-pidato dengan gaya bersahaja masih kalah jauh menariknya dengan gaya Mr. Barry yang friendly dan penuh senyum. Terbukti dengan makan nasi olaharaga sepak bola negeri ini nasibnya justru lebih mirip bolanya yang ditendang menggelinding kesana-kemari. Terbukti dengan makan nasi, para penegak hukum negeri ini jadi kalang kabut oleh seorang Gayus. Hanya satu terbukti kehebatan makan nasi, yaitu bisa menciptakan seorang Gayus. Ada yang mau menambahkan apalagi silahkan.
Disinilah letak kreativitas dan perhatian pemerintah terhadap rakyatnya dipertanyakan, seharusnya bukan program “Sehari tanpa nasi” tapi “bersama makan 3 kali sehari” kenapa ? karena kalau hanya sehari tanapa makan apalagi tanpa makan nasi, berapa ratus, ribu atau juta sih rakyat Indonesia yang sudah terbiasa seperti itu ? tapi kalau “makan 3 kali sehari” ? Ini yang pemerintah kita ternyata tetap saja tidak peka terhadap kondisi bangsa dan rakyatnya, apa itu prosentase kemiskinan menurun ? penilaian dari mana ? hanya sekedar bisik-bisik para penjilat itu !
Mohon perhatiannya ya bapak-bapak, kalau hanya program seperti itu yang diwacanakan kami katakan itu gak keren banget, Pak Habibie aja dulu sempat menghimbau rakyat untuk puasa senin-kamis, ada nilai ibadahnya lho, tapi ini sehari tanpa nasi, apa-apaan? Maaf pak kebanyakan rakyat sudah biasa seperti itu, yang ga biasa itu, setiap hari makan 3 kali sehari, itu sudah cukup benget pak, apalagi bisa sampe keluar negeri .
2 tahun yang lalu

0 comments: